Selasa, 09 Juni 2015

Straight News



Warga Antusias Hadiri Tabligh Akbar

           Tanjungpinang- Ratusan Masyarakat dari berbagai daerah memenuhi area Lapangan Pamedan, Minggu (24/4). Pasalnya, Majelis Ilmu Tabligh Akbar dan Yayasan Al Hidayah mengundang penceramah ternama ibu kota,  Habib Fachri dan Ummi Pipik Dian Irawati. Kedatangan penceramah ternama ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan sekitar dua minggu lagi.
            Masyarakat yang hadir rela menunggu dari pagi dan bersedak-desakan untuk melihat tabligh akbar tersebut. Acara tersebut dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB. Dalam Tabligh Akbar ini, turut hadir Bupati Bintan Ansar Ahmad, Wali kota Tanjungpinang  dan Wakil Ketua 1 DPRD Tanjungpinang, Ade Angga,  S.IP.
            “Saya ikut rombongan Majelis Taklim dari Bukit Bestari. Mau lihat Ummi Pipik dan mendengarkannya berceramah. Saya seneng dengan dia. Menurut saya dia itu wanita tegar dan menginspirasi”, ujar Santi warga Bukit Bestari yang hadir pada acara tersebut.
            Pada acara tersebut, Habib Fachri menyampaikan ceramah dengan tema “Istri yang Sholeha”, sementara Ummi Pipik menyampaikan ceramah tentang “Bukti Kecintaan Kepada Nabi Muhammad saw”. Warga yang hadir mendengarkan ceramah tersebut dengan penuh khidmat. Hal ini tampak dengan suasana yang tenang dan aman saat acara berlangsung.
            Setelah berceramah, pembawa acara menyilakan beberapa warga yang ingin bertanya kepada kedua penceramah tersebut. Tak pelak lagi, banyak ibu-ibu yang mengancungkan tangannya untuk bertanya. Melihat hal itu, Ummi Pipik tak dapat menyembunyikan senyumnya. Acara tersebut ditutup dengan pembacaan doa oleh Ummi Pipik. Beberapa warga tampak meneteskan air mata haru saat pembacaan doa berlangsung.
            Selain antusias warga yang berdatangan, para pedagang pun tak melewati kesempatan yang ada. Mereka menjajakan barang-barang dagangannya di sekitar area acara. “Alhamdulillah, Mbak, warga yang hadir ramai. Yah, dapatlah untung-untung sedikit”, ujar Rahmat pedagang bakso.
            Sehabis ceramah, para warga langsung menyerbu Ummi Pipik. Ada yang ingin sekedar berjabat tangan, ada pula yang ingin berfoto bersama  dengannya. Aksi saling dorong pun tak dielakkan lagi, namun untunglah suasana masih tetap kondusif.

Straight News



Antusias Warga Hadiri Pembukaan MTQ Ke-9 

            Tanjungpinang- Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tanjungpinang kembali menggelarkan acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-9 di Km. 10 tepatnya di Lapangan Terminal Sungai Carang, Tanjungpinang Timur, Minggu (19/4). Para warga dengan antusias memenuhi area tempat pembukaan MTQ berlangsung. Acara ini akan berlangsung selama enam hari mulai dari 18 April hingga 23 April 2015.
            Pembukaan MTQ sendiri diadakan pada tanggal 19 April 205. Walikota Tanjungpinang H. Lis Darmansyah membuka secara resmi kegiatan MTQ ini, yang ditandai dengan pemukulan beduk. Selain itu, acara pembukaan ini juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi, seperti lantunan Kalam Ilahi, Hymne MTQ, Tarian Kolosal dengan judul Suluh Nusantara, serta diakhiri dengan ceramah agama oleh DR. KH. Abdul Manan Abdul Gani.
            MTQ kali ini mengusung tema “Melalui MTQ Ke-9 Kota Tanjungpinang, Kita Aktualisasikan Nilai-Nilai Ajaran Al Qur’an dalam Kehidupan Untuk Mewujudkan Masyarakat yang Berbudi dan Berakhlak Mulia”. Panitia pelaksana berharap dengan tema ini dapat membuka wawasan kepada masyarakat untuk selalu mencintai dan mengamalkan Al-Quran sesuai dengan tema yang diusung.
                        Pada kesempatan itu pula, Lis memberikan kata sambutan yang isinya mengajak seluruh masyarakat muslim untuk mencintai Al-Quran. “Marilah kita jadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Sebab, Al-Quran memberikan manfaat yang luar biasa kepada kita semua dalam menciptakan tataran kehidupan yang harmonis dan diberkahi Allah Swt.”, ujar Lis.
            Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana MTQ, H. Muhd Nasir juga menyampaikan kata sambutannya. Ia mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat terus diadakan. Menurutnya,  kegiatan ini merupakan media dan sarana untuk  mengembangkan dan memperluas wawasan keagamaan, memperluas Syiar Islam, meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang Alquran bagi seluruh masyarakat muslim khususnya di Kota Tanjungpinang.
            “Saya selalu hadir setiap MTQ diadakan. Saya ingin menyaksikan para generas muda melantunkan ayat suci Al-Quran. Yah, tahu sendiri lah, Mbak, gimana keadaan generasi muda sekarang. Sedikit sekali yang mau membaca Al-Quran”, ujar Rosiana, satu di antara warga yang hadir saat itu. (Mega)

Berita Ringan



Melia Sejahtera Tempat Anak Muda Bekerja
            Tanjungpinang- Siapa yang tak mengenal Melia Sejahtera? Perusahaan yang berpusat di Jakarta, tepatnya di Maggarai ini menawarakan produk kesehatan herbal ini banyak diminati oleh generasi muda. Hal ini dapat dilihat dengan menjamurnya anak-anak muda yang ikut bekerja sama dengan perusahaan ini. Mereka menawarkan berbagai macam produk kesehatan herbal kepada teman-temannya. Tak hanya itu, mereka pun berusaha merekrut masyarakat lainnya untuk dijadikan member Melia.
            Di Tanjungpinang,  tempat berkumpulnya para member Melia Sejahtera di daerah batu 8 atas. Perlu diketahui bahwa setiap member Melia Sejahtera memiliki komunitas masing-masing. Untuk perekrutan anggotanya, tidak terlalu sulit. Kita dapat bergabung langsung dengan Melia Sejahtera melaui member-member yang sudah ada. setelah kita menjadi anggota tetap, maka selanjutnya kita dapat merekrut anggota baru untuk dapat bergabung dengan kita. Setiap ada anggota baru yang masuk, maka member yang memasukinya medapatkan bonus langsung.
            Untuk masuk menjadi member Melia Sejahtera, terlebih dahulu kita harus membayar administrasi sebesar Rp30.000,-. Setelah membayar administrasi tersebut, kita dapat langsung memilih penghasilan yang ingin kita dapatkan nanti. Penghasilan maksimal dari pemasaran produk Melia Sejahtera berkisar Rp850.00,-/hari, dengan modal awal Rp605.000,- sekali seumur hidup. Jadi, total keseluruhan biaya masuknya Rp635.000,-.
            “Biaya itu buat yang penghasilannya paling kecil atau kami biasa menyebutnya satu paket atau satu slip gaji. Uang yang sudah dikeluarin tersebut tidak langsung hilang gitu aja. Kita bisa dapet satu paket produk Melia, boleh pilih produk Melia Biyang atau Propolis. Kalo propolis, satu paket dapet tujuh botol, itu masing-masing kalo harga pasarannya seratus ribu rupiah per botol. Sedangkan Melia Biyang, kita dapet empat botol yang tiap botolnya kalo dijual seharga dua ratus lima puluh ribu rupiah. Namun, untuk mereka yang mau jadi member Melia cukup bayar enam ratus tiga puluh ribu rupiah yang tadi sudah bisa mendapatkan paket tersebut. Jadi, mereka tidak dirugikan kalo bergabung di Melia Sejahtera,” jelas Andi Sunandar selaku member Melia Sejahtera, Senin (30/3).
            Para member yang telah bergabung kemudian menawarkan produk-produknya dengan door to door seperti MLM pada umumnya. Menjadi member Melia tak hanya modal kecakapan berbicara untuk menarik minat masyarakat, mereka juga harus punya kesabaran. Hal ini dikarenakan tak banyak masyarakat yang berminat untuk bergabung.
            “Penolakan selalu ada, tapi ya itukan udah resikonya orang yang terjun di MLM. Malahan, penolakan-penolakan tersebut jadi pengalaman yang lucu dan menyenangkanlah pokoknya. Melia Sejahtera sangat membantu saya, terutama untuk medapatkan penghasilan yang cukup besar di usia muda. Kenapa saya berani bilang begitu? Sebab saya sendiri sudah membuktikan bahwa menjadi member Melia Sejahtera itu sangat menguntungkan,” ujar lelaki yang berumur 20 tahun ini lagi.
            Andi juga menambahkan bahwa binus-bonus yang ditawarkan oleh Melia sangat menggiurkan. Untuk itulah Andi berharap agar anak-anak muda Tanjungpinang dapat bergabung menjadi member Melia Sejahtera. “Ayo ajak temen-temennya bergabung, Mbak. Dijamin gak rugi deh. Asal tekun dan serius, semuanya pasti sesuai harapan,” tuturnya. (Mega)

Minggu, 07 Juni 2015

Feature



Bekerja Ganda di Usia Senja

            Lelaki yang lahir 56 tahun silam ini, merupakan putra daerah dari Daik. Beliau merantau ke Tanjungpinang, kemudian Tuhan menggariskan takdir lelaki ini untuk menghabiskan seluruh hidupnya sebagai penyapu jalanan di kota gurindam ini. Beliau tinggal di belakang daerah Pamedan seorang diri.
Muhammad Harun Hasan atau kerap disapa Bapak Harun ini tinggal seorang diri. Beliau tidak lagi mempunyai istri dan hanya mempunyai dua orang anak laki-laki yang kini hidup terpisah dengannya. Anak pertamanya bernama Agus Hamdardi yang saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di Pekanbaru. Anak keduanya bernama Suryansyah yang saat ini bekerja di pabrik kopi kapal tanker Tanjungpinang. Kedua anaknya itu hidup terpisah darinya dikarenakan mereka ingin mencari ilmu dan ingin hidup mandiri. Rasa terasing dan kesepian kerap kali beliau rasakan. Jauh dari anak-anaknya bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, akan tetapi demi masa depan anaknya, ia  rela menikam rasa kesepian itu.
Agus Hamdardi anak pertama Pak Harun, kini sedang menjalankan kuliah semester terakhir. Agus mengerti bahwa gaji yang didapatkan bapaknya tidaklah cukup untuk membiayai semua keperluan kuliah dan kehidupannya di tanah rantauan itu. Oleh karena itu, ia kuliah sambil bekerja untuk membantu bapaknya membiayai uang kuliahnya dan keperluan hidup sehari-hari.
Berbeda dengan abangnya yang kuliah, Suryansyah anak bungsu Pak Harun lebih memilih langsung bekerja setelah ia menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia memilih hidup mandiri dengan tinggal di rumah kos-kosan. Hal ini dilakukannya selain ingin hidup mandiri juga dikarenakan agar tidak jauh dari tempatnya bekerja. Ia menghidupi dirinya sendiri dan juga memberikan uang hasil jerih payahnya itu kepada sang bapak tercinta. Pak Harun sangat bangga dengan kedua anaknya itu. Hidup yang sulit tidak membuat mereka menyerah untuk menggapai cita-cita yang diimpikan.
Pada hari itu, subuh masih menyisakan embun yang bergelayut di dedaunan. Ketika orang-orang masih berada di balik selimutnya, tepat saat azdan subuh dikumandangkan oleh muazin, lelaki berusia 56 tahun ini bangun dari peristirahatannya dan pergi menuju kamar mandi kemudian melaksanakan shalat subuh. Lelaki yang kini memasuki usia senja itu harus melaksanakan pekerjaannya sebagai penyapu jalanan seusai melaksanakan shalat subuh. Rasa kantuk yang masih menyergapnya tidak membuat lelaki berwajah ramah dan murah senyum ini membatalkan niatnya untuk bekerja.
            Seusai mandi dan shalat Subuh, Pak Harun berkemas-kemas menyiapkan peralatan untuk menyapu. Beliau melangkahkan kaki keluar rumah menuju Lapangan Pamedan tempatnya bekerja. Cuaca cerah pagi itu seakan menyemangati Pak Harun untuk menyapu. Lelah yang dirasakan, beliau sembunyikan dan tak menghalangi dirinya untuk mulai  menyapu. Pekerjaan rutin yang dilakukan setiap hari ini sudah dijalankannya selama 14 tahun. Tanpa kenal lelah dan bosan, beliau terus menyapu dan menjaga kebersihan lingkungan tempatnya bekerja.
            Sesampainya di Lapangan Pamedan,  mata sayunya terus melemparkan pandangan ke seluruh penjuru di kawasan itu, untuk melihat sampah-sampah yang berserakan. Setelah itu beliau mulai menyapu hingga tak ada lagi sampah-sampah yang kebanyakan adalah sampah dedaunan yang jatuh. Peluh bercucuran dari dahinya. Beliau tampak kelelahan namun harus tetap melanjutkan menyapu jalanan.
            Bapak dua orang anak ini adalah orang pertama yang bekerja sebagai penyapu di daerah tersebut. Tak heran jika 14 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk beliau mengabdikan dirinya sebagai seorang tukang sapu. Namun, 14 tahun bukanlah waktu yang cukup untuk beliau memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya.
            Awal mula menjadi  tukang sapu, beliau membuat gubuk kayu di sekitar Lapangan Pamedan sebagai tempat tinggalnya. Cukup lama beliau bertahan bersama anaknya di gubuk sederhana itu, sehingga atas kesabaran dan kegigihannya dalam bekerja selama 14 tahun itulah Pemerintah Tata Kota yang mempekerjakannya memberikan sebuah kamar petak yang lebih layak untuk ditempati. Beliau sangat bersyukur sekali atas perhatian pemerintah yang memberikan kamar petak gratis itu, meskipun kini beliau hanya tinggal sendirian.
            Selain bekerja sebagai seorang tukang sapu, Pak Harun juga memiliki pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingannya adalah sebagai tukang parkir di Lapangan Pamedan. Beliau bersama temannya dipercaya untuk menjaga kendaraan-kendaraan mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang dititipkan di sana, sementara mahasiswa-mahasiswa tersebut menaiki bus ke kampusnya. Terkadang beliau bergantian dengan temannya untuk menjaga parkir. Beliau sangat berhati-hati sekali menjaga kendaraan-kendaraan yang terparkir di tempat itu. Rasa khawatir akan hilangnya kendaraan atau helm kerap kali datang, namun untungnya sampai saat ini belum ada barang yang hilang terutama di saat kendaraan-kendaraan tersebut berada dalam pengawasannya.
            Sebagai seorang tukang sapu, beliau menyapu sampah dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Setelah menyapu di pagi hari, beliau melanjutkan pekerjaannya menjadi tukang parkir. Di sela-sela menjaga kendaraan itulah beliau pakai waktunya untuk mengistirahatkan diri sejenak di bawah pohon rindang. Kemudian, saat tiba sore hari sekitar pukul 16:00 WIB, beliau melanjutkan kembali menyapu jalanan di daerah tersebut hingga selesai. Setelah itu barulah beliau pulang untuk beristirahat dan mengumpulkan kembali segenap tenaga yang telah hilang pada hari itu.
            Penghasilannya sebagai seorang tukang sapu dan tukang parkir itulah yang menghidupkannya dan kedua anaknya sampai saat ini. Meski kini anak-anaknya sudah mampu mencari uang sendiri, namun beliau tak lantas melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang bapak.
            Hujan dan panas tak menjadi penghalang untuk Pak Harun terus bekerja. Kedua putranya adalah obat mujarab untuk menghilangkan kepenatannya. Kedua putranya itulah yang menjadi alasannya untuk terus bertahan menjalani kehidupan, meski tanpa seorang istri untuk menemaninya ketika kesepian menghadang. Kedua putranya tercinta tak pernah lupa dengan lelaki tua yang telah lanjut usia itu. Mereka kerap kali mengunjungi bapaknya  untuk mengobati kesepian dan kerinduan. Bahkan tak jarang mereka memberikan uang hasil kerja mereka kepada bapaknya. Percaya kepada kasih sayang Tuhan dan keluarga serta selalu bersabar adalah modal utama Pak Harun dan keluarganya dalam menjalani kehidupan yang penuh suka dan duka ini.